ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Ghania dan Ghailan

Friday, February 7, 2020

(bagian 4)

"Nuna nggak mau berdiri Oma, kaki Nuna sakit. Nuna maunya digendong," rengek Ghania yang akrab dipanggil nuna oleh Ghailan, yang artinya kakak.
Bu Nana merasa bersalah, karena kelalaiannya kaki dan tangan cucunya terluka. Tadinya Ghania bermain  dan tertawa dengan Om dan Tantenya, sekarang malah jadi rewel.

"Bunda, Nuna maunya sama Bunda," rengek Ghania lagi.
Hancur hati Bu Nana mendengar rintihan cucunya. Sementara bundanya jauh di seberang sana. Opa juga berusaha membujuk Ghania, tapi ia tetap saja menangis. Ayah, Om Ajik, Tante Muti, Tante Puti bahkan Nenek Uyut juga tak berhasil membujuk Ghania. Ia selalu menangis memanggil bundanya, karena memang luka pada lutut dan sikut itu sangat nyeri.

Naluri seorang ibu itu memang sangat tajam dan tak pernah salah. Apapun yang terjadi pada anak-anaknya, selalu ada kontak pada ibunya. Yani juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba terdengar handpone Bu Nana berdering.
"Gawaiku berbunyi, dari Yani kah?" bisik Bu Nana.
Ternyata benar, Yani yang telepon.
"Bagaimana anak-anak bu? Apa mereka rewel?" terdengar lantang suara Yani.
"Aduh aku harus jawab apa. Tidak, Yani tidak boleh tahu," bisik Bu Nana lagi.
"Nggak apa-apa nak, mereka baik-baik saja, nggak rewel kok. Kamu sudah sampai di Malaysia ya nak? " kata Bu Nana mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, baru saja mendarat bu, mudah-mudahan Ghania dan Ghailan nggak rewel ya bu, dan urusan aku disini lancar," jawab Yani.
"Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu Nak," tukas Bu Nana.


Share This :

0 comments