ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Ghania dan Ghailan

Tuesday, February 11, 2020


(bagian 9)

Di ruang kerjanya Bu Nana masih membayangkan tingkah kocak kedua cucunya. Dua bocah yang sangat lucu, membuat hari-hari yang dilaluinya terasa indah. Walaupun mereka masih kecil tapi sudah bisa diberi pengertian. Bu Nana sudah tak sabar lagi ingin ketemu dengan mereka.

Sedang asyik bekerja terdengar suara azan berkumandang. Seperti biasa semua pegawai yang ada di komplek perkantoran tempat Bu Nana bekerja melaksanakan  shalat Ashar berjamaah. Kalau telah selesai shalat Ashar, berarti waktunya antrian menghadap kotak sakti yang digantung di dinding kantor. Semua pegawai akan patuh  berbaris dan antrian di depan kotak tersebut sambil menempelkan ujung jari sampai kotak tersebut mengucapkan terima kasih. Nah, itu artinya telah selesai melaksanakan absen pulang.

Tepat pukul 16.00 Wib Bu Nana bersama suaminya meninggalkan ruang kerja. Mereka sudah tak sabar lagi untuk bertemu Ghania dan Ghailan. Selama dalam perjalanan pulang, Bu Nana selalu  menyempatkan diri membuat tulisan  di Hp nya. Bisa berbentuk puisi, cerpen, pantun, ataupun catatan pengalaman yang dirasakan ketika melakukan bimbingan terhadap kepala sekolah dan guru di sekolah binaannya. Kalau sudah ada waktu senggang semua tulisan itu dibukukan. Hingga sudah banyak buku karya Bu Nana yang sudah terbit. Dalam Mobil putih yang selalu setia mengantarkan mereka, tersimpan banyak cerita dan kenangan dalam melahirkan sebuah buku.

"Assalamualaikum. Mana si Cantik dan si Ganteng Oma," sapa Bu Nana dari balik pintu.

Sontak Ghania berlari menuju pintu rumah. Ghailan pun tak mau ketinggalan, ia  berusaha mengejar Nunanya walau ia baru bisa merangkak.

"Oma pulang, Opa pulang. Horeee," teriak Ghania.
"Oma bawa apa?" Ghania penasaran melihat benda yang disembunyikan Omanya di belakang Opa. Ghania yakin ada sesuatu yang dibawa  Oma dan Opa. Karena biasanya ya seperti itu.

"Creereeng. Ayo siapa mau, Oma ada sesuatu," kata Bu Nana sambil mengangkat kantong belanjaan.
"Waah, pasti jeruk. Nuna mau Oma," sambut Ghania melompat-lompat kegirangan.
Ghailat juga ikut bersorak, walaupun ucapannya tidak begitu jelas, tapi terlihat kegembiraan di wajahnya.
Jeruk adalah buah kesukaan Ghania dan Ghailan. Biasanya Yani tidak pernah lupa menyediakan buah ini.
"Om, tante, sini. Kita makan jeruk yuk," ajak Ghania.
Itulah sifat Ghania yang slalu mau berbagi dengan orang lain. Mereka memakan buah jeruk dengan lahap, sambil bercerita lalu tertawa. Entah apa yang mereka diceritakan.

"Oma, tadi Nuna lihat film Upin dan Ipin, kok nggak ada bundanya Oma? Kok bunda nggak muncul. Katanya bunda ke rumah Upin Ipin," kata Ghania polos.

Semua tertawa melihat gaya Ghania berbicara. Ia sangat yakin bisa melihat bundanya bermain bersama Upin Ipin.

" Bunda bukan ke rumah Upin Ipin, Tapi ke Negara Upin Ipin, namanya Malaysia. Jadi Bunda belum ketemu sama Upin Ipin, "jelas Bu Nana.
" Oo, begitu ya Oma,"Jawab Ghania sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Seperti orang yang paham sekali.

" Ghania, Ghania. Kamu lucu sayang, "tukas Opa dan tersenyum melihat Ghania.

(bersambung)

Share This :

0 comments