"Bagaimana kuliahmu Rin, kamu ambil jurusan apa?" pertanyaan Andi membuyarkan lamunan Arini.
"Alhamdulillah lancar Ndi. Aku ambil jurusan matematika," jawab Arini meneguk tehnya menghilangkan grogi.
"Cocoklah, kamu kan pintar matematika."
Diam sejenak. Andi memainkan gawainya. Sebenarnya ia ingin pamit pada Arini, karena besok harus kembali ke Jakarta, karena Tati sepupunya harus sampai di Jakarta Lusa. Tapi Andi tak berani berkata, bibirnya kelu. Ingin rasanya lebih lama lagi di samping Arini dan mengungkapkan perasaan yang bergejolak dalam hatinya.
"Sudah malam, Aku pulang dulu ya Rin."
"Ya Ndi, besok kesini lagi kan?"
Andi hanya tersenyum dan meninggalkna Arini tanpa menoleh lagi ke belakang. Arini menatap Andi sampai hilang dari pandangan. Arini kembali ke kamarnya langsung istirahat agar bisa bangun segar besok pagi. Tapi matanya tak juga bisa dipejamkan, bayangan Andi selalu bermain di pelupuk matanya. Jam sudah menunjukkan jam sinderela, namun hati gundah menyiksa bathin Arini.
Di kamarnya Andi juga tak bisa memejamkan matanya, sama seperti Arini. Sungguh Arini adalah sosok yang diidolakannya. Manis wajahnya menyejukkan mata memandang, santun bahasanya menambah keibuannya. Suka berbagi dengan sesama. Keikhlasannya dalam melakukan setiap kegiatan menambah anggun penampilannya. Lelaki mana yang takkan terpikat dengan kembang desa ini.
Dua sahabat sejati yang saling jatuh cinta tapi tak mampu untuk mengungkapkannya demi menjaga komitmen bersama akan menjaga persahabatan mereka. Cinta adalah anungrah dari Allah, bisa saja terjadi pada siapapun juga. Akankah rasa ini akan selamanya hanya bermain di angan belaka
(bersambung)

0 comments