ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Kandas

Monday, February 17, 2020

Senin, 17 Pebruari 2020

Waktu liburan telah usai. Andi telah kembali ke Jakarta bersama Tati sepupunya untuk  melanjutkan aktivitas perkuliahannya. Kini tinggal Arini sendiri dalam kebimbangan. Dengan langkah guntai Arini berangkat menuju kampus. Arini memilih jalan kaki saja demi untuk menghemat biaya, lagi pula jarak rumah dengan kampusnya tidak begitu jauh. Arini kasihan melihat neneknya harus banting tulang untuk membiayai kuliahnya. Sementara akhir-akhir ini kondisi Nek Ijah sudah sering sakit-sakitan. Arini khawatir melihat kondisi neneknya.

"Ternyata aku tidak bisa hanya mengandalkan sahabat sejati, karena sahabat sejati takkan selamanya ada di sampingku, membantuku, menemaniku dalam suka maupun duka. Kami juga punya urusan masing-masing. Punya cita-cita dan  masa depan yang harus dikejar. Aku harus membiasakan diri tanpa mereka,"
Gumam Arini.

"Hei, bengong aja," Tia menepuk pundak Arini.

"Astagfirullah. Tia, kamu lagi, kamu lagi. Jantungku mau copot rasanya," Arini membalikkan badannya memandang Tia dengan wajah pucat.

"Ya maaf, habis kami pagi-pagi gini sudah bengong. Semangat dong. Atau kamu ada masalah Rin. Ada yang bisa aku bantu," Tia memegang tangan sahabatnya.

"Tangan kamu dingin Arini. Kamu sakit? Mukamu pucat sekali?

"Aku nggak sakit kok. Biasa aja. Memang mukaku pucat ya."

"Ni, kamu lihat wajah."

Arini melihat wajahnya dalam cermin yang di berikan Tia. Benar kata Tia wajahnya pucat. Jelas saja pucat kerena semalam Arini tak bisa tidur, memikirkan perpusahan dengan Andi.

"Rin, jika kamu ada masalah, aku siap membantu. Ada  apa sebenarnya. Sejak pertama kita bertemu, aku melihat kegelisahan di wajahmu. Apa karena Andi teman dekatmu itu."

Arini menunduk, butiran bening mulai mengalir
membasahi. Ia ingin rasa yang membelenggu jiwanya ini cepat berlalu, agar bisa menjalani hidupnya dengan tenang dan dapat mencapai cita-citanya.

(bersambung)

Share This :

0 comments