ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Kandas

Tuesday, February 18, 2020

Rabu, 18 Pebruari 2020

Andi sengaja tidak memberi tahu Arini kalau abangnya akan menikah. Bukankah ketika pesta nanti ia juga akan pulang. Andi ingin memberi kejutan lagi buat Arini. Ibunya tentu  juga akan memberitahu semua sanak famili dan orang kampung untuk pesta abangnya nanti.

Arini masih penasaran tentang pembicaraan Bu Yesi dan neneknya Tadi pagi. Karena sekilas ia mendengar ada yang mau menikah, Bu Yesi juga menyebut nama Andi. Ingin menanyakan kepada nenek, tapi Arini malu. Nek Ijah melihat kegelisahan cucunya. Ia tahu kalau Arini menaruh hati kepada Andi. Biasalah anak muda. Nek Ijah sangat memahami perasaan cucunya, walau ia sudah tua tetapi Nek Ijah bisa  memahami dunia anak muda. Arini sering menjadikan neneknya sebagai teman tempat ia mencurahkan isi hatinya.

"Kenapa kamu Rin, kok uring-uringan begitu. Kayaknya ada yang kau fikirkan. Coba cerita sama nenek," Nek Ijah mendekati Arini.

"Kata Bu Yesi ada yang mau menikah ya nek. Apa Andi yang akan menikah?"

"Ooo, itu yang membuatmu gelisah. Nenek jadi tahu sekarang, kamu takut kehilangan Andi kan. Kamu suka sama Andi," Nek Ijah menghujani Arini dengan pertanyaan.

Arini jadi malu, ia menundukkan kepalanya.

"Tu kan, mukanya merah. Rupanya cucu Nenek lagi jatuh cinta ya. Jangan khawatir Rin, bukan Andi yang mau nikah tapi abangnya," jelas Nek Ijah.

Arini sedikit lega, ternyata bukan Andi yang mau menikah. Ia malu pada dirinya sendiri. Kenapa harus cemburu jika ada yang mau mendekati Andi, padahal antara mereka tidak ada hubungan apa-apa, hanya teman sepermainan dari kecil.

Arini mencoba menelpon Andi, kenapa Andi tidak memberi tahunya kalau abangnya mau menikah. Tapi Andi tidak mengangkat telponnya, mungkin sedang ada kelas. Arini ke dapur, tadi malam Nek Ijah minta dibuatkan bubur kacang hijau. Semua bahan sudah dibelinya kemaren. Tinggal mengukur kelapa dan menjadikan santan. Dengan cekatan Arini memasak bubur kacang hijau kesukaan neneknya. Arini memang pandai memasak, bakat ibunya turun kepadanya. Dulu ibu Arini pernah jualan bubur dan gorengan. Banyak juga langganannya. Akhirnya kecelakaan maut itu menimpa ayah dan ibunya ketika membeli bahan makanan  yang akan diolah untuk dijual. Sejak itu ia berjuang berdua dengan neneknya untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka. Arini sangat menyayangi neneknya, semua permintaan nenek selalu dikabulkannya.

"Mana bubur kacang hijaunya Rin. Nenek sudah lapar nih," terdengar suara Nek Ijah dari ruang jahitnya. Nek Ijah sudah  biasa makan cemilan saja untuk sarapan, siangnya baru beliau makan nasi.

"Sebentar nek, sedikit lagi. Nenek makan saja dulu roti dan teh manis yang sudah aku tarok di meja kerja."

"Kalau Nenek makan roti, kenyanglah perut nenek. Nggak jadi Nanek makan bubur kacang hijau."

"Iya Nek, ini buburnya sudah matang. Silakan dinikmati Nenek sayang."

Rini meninggalkan Nek Ijah dan langsung masuk kamar. Mengambil. Kain kotor yang dicuci.

"Aduh Rin, kamu mau membunuh Nenek ya, Huuu haah," suara Nek Ijah kedengaran sampai ke kamar Arini.

Secapat kilat Arini berlari mendekati neneknya.

"Ada apa Nek? Nenek kenapa?"

Sampai di samping Nek Ijah Arini tertawa cekikikan melihat tingkah neneknya.

(bersambung)


Share This :

0 comments