Kamis, 20 Pebruari 2020
Nek Ijah marah kepada Arini, setelah mencicipi bubur kacang hijau yang disuguhkan Arini. Karena sudah tidak tahan mencium aroma masakan Arini yang wangi mengundang selera, Nek Ijah langsung memakannya, ternyata bubur kacang hijau masih panas, lidahnya sakit. Arini tertawa melihat neneknya kesakitan.
"Tertawa kau melihat aku kesakitan Rin. Ini anak bukannya membantuku malah mengejekku," umpat Nek Ijah.
"Bukan mengejek nek. Salah Nenek juga sih, jelas buburnya baru masak ya pasti panas lah nek," Arini mendekati neneknya membantu meniup bubur kacang hijau yang ada di piring neneknya agar cepat dingin.
"Nak sekarang buburnya sudah dingin, silakan Nenek makan lagi."
"Tarok sajalah di meja tu dulu. Lidahku masih sakit."
Arini meninggalkan neneknya yang masih duduk termangu di ruang kerjanya. Ia mengumpulkan semua pakaian kotor termasuk pakaian neneknya. Untuk urusan mencuci, menyetrika, dan memasak, itu adalah bagian Arini. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Dengan kesibukan Nek Ijah untuk menjahit pakaian ibu-ibu di kampung ini bahkan juga dari kampung tetangga yang setiap hari ada saja yang datang, tentunya waktu Nek Ijah sudah habis tersita, karena itu Arini dengan senang hati selalu membantu neneknya. Karena terpaan oleh kondisi ekonomi keluarga, sehingga Arini tumbuh menjadi gadis remaja yang mandiri.
Di bidang akademik Arini juga termasuk siswa pintar. Berbagai prestasi telah ia raih. Gadis berkemauan keras, gigih, dan pantang menyerah, selalu menanamkan motto hari ini lebih baik dari kemaren, sehingga telah memotivasinya untuk selalu berkarya dan mengembangkan potensi diri. Selesai kuliah nanti ia berharap bisa menjadi seorang dosen yang profesional, karena itu tidak ada waktu yang terbuang baginya.
(bersambung)

0 comments