Jumat, 21 Pebruari 2020
Pagi ini Nek Ijah tidak berada di ruang jahitnya. Semua pakaian sudah selesai dijahit kemaren sore. Mumpung hari ini hari Minggu, Nek Ijah memanfaatkan waktu bersama Arini, bantu-bantu Arini membersihkan rumah. Walaupun rumah mereka sederhana dan juga kecil, tetapi Arini sangat pintar menatanya sehingga siapapun merasa nyaman berada di rumah ini.
Perabotan rumah yang sederhana dan juga sudah tua, tapi karena selalu dirawat masih terlihat antik. Hari ini Arini menukar letak perabotan rumahnya, menghiasi dengan aneka bunga yang ia rangkai sendiri, karena di halaman rumahnya juga banyak tanaman bunga. Arini gadis cantik yang selalu berhijab, bernyanyi-nyanyi kecil membuka jendela rumahnya. Hijab yang selalu menutupi tubuhnya menambah anggun penampilannya. Kini rumah ini terlihat cerah, susunan perabotan rumah yang terlihat unik dengan aneka hiasan ditambah lagi tiupan angin sepoi-sepoi menyibak tirai rumah Arini, menambah segarnya susana pagi ini.
Suasana ini mengingatkan Nek Ijah pada sepuluh tahun yang silam, di saat ayah dan ibu Arini masih hidup. Dewi ibu Arini menata ruangan seperti ini. Nek Ijah duduk di kursi santai di samping kamarnya. Kali ini wajah Nek Ijah terlihat sedih, tidak secerah suasana rumah. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Nek, ada apa? Kenapa Nenek menangis? Nenek sakit ya," Arini memeluk neneknya.
"Ayo Nek cerita sama Nini."
Nini panggilan sayang yang selalu diucapkan ibunya dulu. Mendengar Arini memanggil dirinya Nini makin menambah sedih Nek Ijah. Kali ini tidak hanya air mata saja yang mengalir, Nek Ijak malah terisak-isak. Entah apa yang sedang difikirkan. Arini semakin bingung melihat tingkah neneknya.
"Nek, maafkan Nini ya, apa sikap Nini ada yang salah Nek. Cerita dong sama Nini."
Nek Ijah menatap wajah cucu yang sangat ia sayangi. Tak ada satupun sikap Arini yang membuat hatinya terluka. Malah ia sangat bangga dengan Arini, tidak hanya cantik rupanya tetapi juga cantik dan halus budi bahasanya. Santun kepada siapapun. Hanya sikap dan tingkah Arini mengingatkan Nek Ijak kepada puterinya ibu kandung Arini yang pergi dengan tiba-tiba. Seakan kepergiannya direnggut begitu saja. Dewi juga menata rumah seperti yang dilakukan Arini sebelum kecelakaan itu terjadi. Nek Ijah merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada cucunya.
"Nenek nggak apa-apa sayang. Nenek hanya ingat ibumu, kamu cantik persis ibumu."
Arini kembali memeluk neneknya, kali ini ia ikut menangis. Suasana sedih melanda hati mereka. Rindu kepada ayah dan bundanya mengisi relung hatinya. Rindu yang selama ini ia pendam entah kemana akan dikadukan. Ia ikhlas dengan semua takdir yang telah terjadi, biarkan rindu ini melengenda di hatinya agar ayah dan bundanya selalu ada di setiap helaan nafasnya.
(bersambung)

0 comments