Selasa, 25 Pebruari 2020
"Selamat ya," Fahri mengulurkan tangannya kepada Arini.
"Selamat untul apa Fahri," jawab Arini sambil memasukan lap top ke dalam tasnya.
"Selamat atas suksesnya kelompokmu dalam presentasi tadi. Kamu hebat Arini, baru kali ini Pak Fauzan tidak memberi penjelasan di ujung diskusi."
"Kamu terlalu memujiku, nanti Kau melayang-layang lho," jawab Arini sambil memasukkan lap top ke dalam tas ranselnya.
"Buka memuji, tapi memang itu kenyataannya."
Fahri membantu Arini membereskan semua perlengkapan diskusi tadi. Teman-teman satu kelompok Arini sudah kembali ke bangku masing-masing.
"Makasih ya,"
"Rin ke kantin yuk. Aku lapar nih, tak sempat sarapan tadi pagi."
"Kok nggak sempat, memangnya kamu ngapain tadi pagi."
"Aku ketiduran, makanya aku buru-buru ke kampus takut terlambat. Tahulah pak Fauzan, orangnya disiplin dan rak suka melihat mahasiswa yang terlambat.
" Cepatan dong, nanti aja ceramahnya. Perutku sudah tak bisa lagi diajak kompromi," Tia menarik tangan Arini.
"Yuk Fhari kita ke kantin," ajak Arini.
Fahri mengikuti ajakan Arini, mudah-mudahan ini pertanda baik. Kelihatannya Arini sudah mau membuka hatiny untuk bisa bersahabat dengan Fahri. Sudah lebih satu tahin sikap Arini hanya dingin jika diajak bicara. Tapi hari ini sikap Arini lain, ia ramah sekali.
Tia memesan makanan pavoritnya, mie ayam dan segelas juss mangga tanpa basa basi dengan sahabatnya. Arini geleng-geleng kepala melihat sikap Tia yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kelihatannya Tis benar-benar kelaparan.
"Pesan apa Fahri?"
"Kamu pesan apa?" Fahri balik bertanya.
"Aku jeruk pabas saja. Perutku masih kenyang, tapi pagi Aku sudah sarapan."
Fahri memesan dua gelas jeruk panas untuk Arini dan dirinya. Mereka menikmati makanana yang telah tehidang. Sejenak diam, hanya dentingan sendok dan garpu Tia yang terdengan memecah kesunyian. Suasana di kantin masih sepi, karena kelas lain masih belajar. Arini menghirup jeruk panas yabg masih tersisia setengah. Ia menikmati sekali minuman kesukaannya ini. Sesekali Fahri melirik ke arah Arini. Cantik sekali bidadari yang berada di sampingnya. Angin bertiup sepoi-sepoi mengibas-ngibaskan jilbab ungu yang dikenakan Arini. Tiupan angin menambah sejuknya hati Fahri saat ini.
"Rin, nanti sore Aku ke rumah ya. Tugas statistikku belim selesai. Bolehkan?" Suara Tia memecah keheningan
"Boleh," jawab Arini singkat.
Arini sangat pintar dalam mata kuliah statistik. Pokoknya yang berhubungan dengan hitung-hitungan selalu dilahapnya. Kemampuan Arini selalu dimanfaatka Tia untuk membantunya, karena Tia ping tidak suka mata kuliah satu ini. Fahri hanya diam mendengarkan ciloteh sahabatnya. Sesungguhnya ia sangat berharap bisa ikut bergabung. Tapi ia akan setia menunggu jawaban dari Arini, kapan ia boleh main ke rumah Arini. Tadi pagi Arini menjanjikan jangan hari ini.
"Kamu ikut tidak Fahri," Tia memancing Arini untul berbicara.
Tia tahu kalau Arini tak suka Fahri main ke rumahnya. Tia selalu berusaha agar Fahri mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan Arini. Kasihan jugan melihat usaha yang sudah ia lakukan selama satu tahun ini.
"Boleh Aku ikut Rin?" Fahri memberanikan diri.
"Mm, ginana ya."
Wajah Arini terlihat tidak suka. Tapi ia kasihan juga melihat Fahri yang sangat berharap bisa main ke rumahnya. Akhirnya Arini menganggukkan kepalanya tanda mengizinkan Fahri ke rumahnya nanti sore.
"Rin, Tia, Fahri, ayo cepat. Bu Ningsih sudah masuk," Mirna memanggil mereka.
Mereka segera ke kelas setelah Fahri membayar semua makanan mereka tadi. Fahri bahagia, akhirnya ada kesempatan untuk mendekati Arini.
(bersambung)

0 comments