Kamis, 27 Pebruari 2020
Tak lama Nek Ijah pergi, mobil avanza putih milik Fahri berhenti di depan rumah Arini. Fahri mengenakan baju kemeja hitam dan celana jeans hitam. Serasi sekali dengan kulitnya yang putih. Pria tinggi semampai itu melemparkan senyumannya kepada Arini. Arini juga menyambut senyuman yang bersahabat.
"Assalamualaikum," sapa Fahri.
"Waalaikum salam, sendirian Fahri? Tia mana?" sambut Arini.
"Tia katanya menyusul bentar lagi. Dia mampir dulu di warung depan."
"Pasti Tia sengaja datang terlambat, agar kami hanya berdua saja," gumam Arini.
"Silakan duduk Fahri, maaf ya rumahku hanya seperti ini."
"Rumahmu bagus kok. Bersih dan tertata indah. Suasananya nyaman sekali."
"Rumahku hanya sederhana Ri, tak sebagus rumahmu."
"Yang penting kita nyaman dan bahagia, itu sudah cukup Rin," tukas Fahri lagi.
Fahri memang anak orang kaya. Menurut Tia rumahnya besar dan mewah. Tapi ia rendah hati tak pernah membeda-bedakan temannya.
"Kok sepi Rin, ibumu kemana?"
Pertanyaan Fahri membuat Arini kaget dan wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Tapi Arini tetap berusaha menenangkan dirinya.
"Aku hanya tinggal berdua dengan nenekku Fahri. Nenek sedang ke rumah Bu Afni. Ibu dan Ayahku telah lama meninggal Fahri," jawab Arini menundukkan kepalanya.
Buliran bening menggenangi sudut matanya. Arini berusaha menahan tangis, ia telah mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya dan harus bangkit demi masa depannya.
" Maafkan Aku Rin, pertanyaanku membuatmu sedih. Sungguh Aku tak tahu jika kedua orang tuamu telah tiada," kata Fahri penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa Fahri, peristiwa itu telah lama terjadi, waktu Aku duduk di kelas tiga SD."
Fahri tidak mau melanjutkan pembicaraan tentang orang tua Arini. Ia merasa bersalah telah membuat gadis cantik ini menjadi sedih.
"Kecelakaan telah merenggut nyawa Ayah dan Ibuku Fahri. Tapi Aku berusaha ikhlas menerimanya, walau sesengguhnya Aku sangat terpukul."
" Semoga beliau tenang di alam sana Rin."
Fahri paham dengan sikap Arini yang sedikit pendiam. Ternyata begini kisah hidupnya. Sejenak hening, mereka larut dengan perasaan masing-masing. Hanya nyanyian sepasang burung kenari bersahutan-sahutan yang hinggap di pohon belimbing yang tumbuh di samping rumah Arini. Pohon itu sekarang sedang berbunga.
Karena asyik berbicara dengan Fahri Arini sampai lupa menyuguhkan minuman untuk Fahri, padahal sudah ia siapkan sejak pagi. Kolak pisang juga sudah dimasak neneknya.
"Sebentar ya Fahri, Aku masuk dulu," kata Arini membalikkan badannya.
"Assalamualaikum," Tia datang membawa kantong plastik belanjanya.
"Waalaikum salam," jawab Arini dan Fahri serentak.
"Mau kemana Rini, disini saja ini Aku bawakan kue," kata Arini.
"Kue? Kamu beli kue. Kenapa?"
Arini tak percaya, biasanya Tia tak pernak bawa kue kalau ke rumahnya.
"Kebetulan tadi aku mampir di warung. Nggak apa-apa kan?"
"Ya sudah, masuk sebentar mengambil minuman dan kolak yang dibuat nenek tadi pagi," kata Arini dan berlalu ke dapur.
Arini menghidangkan juss jambu biji yang ia petik di halaman belakang rumahnya dan semangkuk kolak pisang olahan neneknya. Di belakang rumah Arini juga ditanami dengan pisang.
" Silakan dicicipi. Kolak pisang pakai durian yang dimasak nenek tadi pagi dan ini juss buatan Aku sendiri. Silakan, kalian pasti suka."
"Wah, sedapnya. Aku mau makan kolaknya duluan. Nenek tahu aja kesukaanku," kata Tia tanpa basa basi.
Fahri senyum-senyum saja melihat tingkah Tia. Memang Tia jagonya makan, baik di kantin, di rumah, bahkan di rumah Arini semua makanan disikatnya.
Selesai menikmati kolak durian, mereka mulai mengerjakan tugas mata kuliah Statistik yang harus dikumpulkan besok. Mereka terlihat akrab sekali. Arini memang jagonya statistik. Dengan lincah ia menjelaskan kepada kedua sahabatnya. Akhirnya semua dapat mereka selesaikan. Fahri semakin mengagumi Arini., selain cantik ia juga pintar dan suka berbagi. Fahri senang karena Arini sudah mau bersahabat dengannya. Walau sebenarnya ia mengharapkan lebih, tapi pelan-pelan saja semoga semua keinginannya terkabul. Inilah sahabat baru Arini yang membuat ia kembali ceria seperti dulu. Keceriaan yang sempat redup swmwnjak ditinggalkan sahabat sejatinya si putih abu-abu.
(bersambung)

0 comments