Jumat, 28 Pebruari 2020
Sebelum magrib Tia dan Fahri pamit pulang. Semua tugas sudah mereka selesaikan. Suasana sore ini benar-benar menyenangkan bagi Fahri. Sudah satu tahun lamanya ia berusaha mendekati Arini, baru hari ini bisa ia dapatkan untuk dapat mengenal Arini lebih dekat. Sikap Arini juga terlihat bersahabat.
Ternyata Arini orangnya menyenangkan, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Gadis cantik yang selalu menutupi auratnya ini, di samping cantik, pintar, juga suka berbagi dan asyik di ajak bercanda. Dari kelakar sore ini Fahri tahu bahwa Arini selama ini bersikap dingin kepadanya karena berpisah dengan sahabat-sahabat sejatinya. Orang yang selalu menemaninya menjalani hidup sehari-hari.
"Rin, kami pamit ya, lain kali bolehkan Aku ke sini lagi," kata Fahri penuh harap.
"Boleh dong," Tia menimpali.
Arini hanya tersenyum. Tia orangnya memang ceplas ceplos dan kadang-kadang sok tahu. Tapi suasana jadi ramai karena ulahnya. Fahri masih berdiri termangu menunggu jawaban Arini, sementara Tia sudah meninggalkan mereka dan menaiki mobil Fahri.
"Bagaiman Rin, boleh?" Fahri sedikit memaksa.
Ia berharap dapat mengenal Arini lebih dekat lagi sampai akhirnya harapannya terkabul Arini mau menerimanya melebihi seorang sahabat.
Dengan berat hati akhirnya Arini mengganggukan kepalanya. Arini sudah bisa membaca tujuan Fahri. Ia juga merasakan kalau Fahri menyukainya.
"Apa salahnya ya, jika Aku menerima Fahri. Dia baik, pintar, dan juga perhatian kepadaku," batin Arini.
Kedua sahabat Arini sudah pulang. Kebersamaan sore ini telah menimbulkan semangat Arini kembali. Ternyata masih banyak orang-orang yang mau bersahabat dengannya, masih ada orang yang membutuhkannya. Walau sesungguhnya ia menyadari kehadiran Andi tak dapat digantikan oleh siapapun. Tapi Arini yakin seiring berjalannya waktu ia bisa membuka hatinya untuk orang lain. Mungkin sekarang Andi juga sudah melupakan dirinya, atau mungkin sudah bertemu dengan tambatan hatinya, karena akhir-akhir ini Andi sudah jarang menghibunginya.
"Mana teman-temanmu Rin? Jadi mereka datang," Nek Ijah tiba-tiba sudah berdiri di depan rumah.
"Jadi Nek, mereka sudah pulang," jawab Arini.
"Bagaimana belajarnya hari ini. Lancar?"
"Alhamdulillah Nek, semua tugas sudah kami selesaikan."
"Baguslah kalau begitu. Teman-temanmu suka kolak buatan Nenek?"
"Suka sekali Nek, semua kamu sikat habiskan," kata Arini sambil mengancungkan jempolnya.
"Alhamdulillah. Oh ya ada yang titip salam untukmu."
"Titip salam? Dari siapa Nek?"
"Si Andi. Sebentar ini ia baru sampai ketika Nenek mau pulang," jawab Nek Ijah lagi.
Arini terdiam, baru saja ia beranggapan Andi telah melupakannya.
(bersambung)

0 comments