Sabtu, 29 Pebruari 2020
Andi sibuk membantu ayah dan ibunya persiapan pernikahan abangnya besok. Semua persiapan sudah 90 persen, tinggal menunggu pelaksanaannya saja lagi. Andi merebahkan tubuh di kamarnya. Istirahat agar kondisi lebih segar di hari pernikahan abangnya.
Karena asyik seharian bekerja, Andi sampai lupa menelpon Arini. Andi berharap Arini bisa hadir di pesta besok. Selain ingin melepas rindu, ia juga bertekad akan mengungkapkan semua perasaannya kepada Arini. Apapun jawaban dari Arini, Andi siap menerimanya walaupun akhirnya Arini menolak.
Andi melirik jam tangannya, jarum jam menunjukkan pukul 22.00.
"Sudah malam, nggak sopan kalau Aku menelepon Arini. Mungkin Arini sudah istirahat. Besok pagi saja Aku langsung menemui Arini di rumahnya," Andi berbicara sendiri, menyusun rencana untuk menemui Arini.
Semua kenangan bersama Arini kembali bermain dalam ingatan Andi. Benar kata orang, kalau masa putih abu-abu itu menyimpan kenangan yang paling mengesankan. Suasana itu tak pernah lagi ia dapatkan di bangku kuliah. Kebersamaan dengan sahabat tidak seakrab waktu di SMA dulu. Masing-masing sibuk dengan urusan pribadi, berusaha untuk mencapai cita-cita dengan usaha sendiri. Terkadang situasi memaksa kita untuk mendahulukan kepentingan pribadi. Siapa yang giat dan sungguh-sungguh lebih cepat pula menyesaikan pendidikannya.
Andi menyadari sampai saat ini ia belum bisa menemukan sahabat seperti Arini. Dari sekian banyak teman wanitanya yang berusaha menarik simpatinya, tidak satupun bisa menyentuh perasaanya.
"Arini, Aku rindu kamu. Aku ingin kita seperti dulu lagi. Apapun kegiatan kita lakukan bersama. Kehadiranmu disisiku benar-benar membuat hati ini nyaman."
Andi membenamkan wajahnya dibalik bantal. Perasaannya semakin tidak karuan. Wajah Arini semakin terlihat jelas.
" Arini, apakah kau juga merasakan apa yang saat ini Aku rasakan. Entahlah. Banyak gadis cantik di kampusku, Rani gadis tinggi semampai yang berkulit putih, Mirna tutur katanya lembut selalu santun berbicara dengan siapapun, atau Kristina gadis tomboy jika berbicara blak-blakan, bahkan Anita gadis pintar yang suka berbagi dan sangat peduli dengan orang lain. Semuanya berusaha mendekatiku, namun tak bisa menggantikan posisi Arini di hatiku, " desah Andi.
" Aku harus jujur pada Arini. Aku tak sanggup lagi disiksa perasaan ini. Besok, ya besok akan Aku ungkapkan semuanya pada Arini."
Lewat tengah malam Andi baru bisa memejamkan matanya, membuat tubuhnya terhuyung bangun pagi ini. Di luar terdengar suara berisik. Rupanya semua keluarganya sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk mengantarkan Fauzi menikah.
" Pagi ini Aku jemput Arini dulu. Nanti kami bisa berangkat bersama," bisik Andi.
Andi mengeluarkan kuda besi yang biasa ia pakai jika mau berpergian. Sebelum berangkat Andi menelpon Arini terlebih dahulu, agar Arini siap-siap. Tapi tak ada jawaban dari Arini. Akhirnya ia memutuskan untuk langsung menjemput Arini. Sampai di depan rumah Arini, Andi melihat Arini berangkat dengan mobil Avanza putih bersama seorang pemuda tampan.
" Arini bersama pemuda itu. Siapakah dia? Atau mungkin pacar Arini. Mereka kelihatan mesra sekali."
(bersambung)

0 comments