Selesai shalat subuh, Arini membuka jendela kamarnya. Di luar masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang terlihat lalu lalang di jalanan pulang dari mesjid. Di desa Arini masih membudaya shalat berjamaah di mesjid. Penduduk desa ini tidak begitu ramai, karena sebagian penduduknya merantau ke kota lain.
Udara terasa dingin. Angin bertiup sepoy-sepoy. Embun pagi masih setia bertahta di dedaunan. Dari pucuk cemara terlihat sang surya mulai menampakkan wajahnya. Arini masih terpaku berdiri di kamarnya menghadap ke jalan raya, berharap seseorang berdiri di tempat yang selama ini ia lihat. Di seberang sana adalah rumah Andi. Kebiasaan Andi setiap pagi adalah melaksanakan olah raga pagi, itu makanya tubuh Andi terlihat bugar. Tapi pagi ini Andi tidak berolah raga, tetapi sibuk memetik buah mangga yang tumbuh di samping rumahnya. Tati mengumpulkan buah mangga yang sudah dipetik Andi.
"Masih pagi, kenapa Andi sudah memetik mangga. Kenapa tidak ditunggu sebentar lagi," Arini bertanya-tanya dalam hatinya.
"Rin, tolong salin air minumnya, tu sudah mendidih," suara nek Ijah membuay Arini terkejut.
"Ya, Nek," jawab Arini sambil berlalu ke dapur.
Arini sangat sayang kepada neneknya. Sejak kecil Arini hanya berdua dengan neneknya. Ia tidak pernah membantah apapun perintah neneknya.
"Apa yang kamu lihat. Kok pagi-pagi sudah melamun."
"Tidak melihat siapa-siapa nek. Tadi Rini membuka jendela kamar, agar udara segar bisa masuk."
"Jangan bohong. Kamu pasti mengintip Andi ya,"
"Iiih nenek, Rini jadi malu."
Nek Ijah sudah lama memperhatikan sikap Arini. Nek Ijah yakin cucunya lagi jatuh cinta.
"Nenek dengar, Andi mau kembali ke kota ya Rin."
"Apa Nek? Kembali ke kota? Kapan Nek?"
"Hari ini, begitu yang nenek dengar dari ibunya tadi malam."
Arini sedih. Wajahnya yang dari pagi berseri-seri, kini berubah sedih
(bersambung)
Share This :

0 comments