Rabu, 26 Pebruari 2020
Selesai shalat ashar, Arini membersihkan rumahnya yang terlihat tak berdebu. Rumah ini selalu terlihat bersih dan rapi. Nek Ijah walaupun sudah tua terapi selalu berpenampilan bersih. Apa lagi mereka tinggal di rumah ini hanya berdua, keadaan rumah selalu dalam kondisi tertata.
Digantinya alas meja yang ada di teras yang biasa ia gunakan jika belajar bersama Andi dulu. Meja ini sudah lama tidak ia gunakan sebagai tempat belajar. Sejak ia dan Andi sudah tamat SMA dan Andi melanjutkan pendidikannya ke Jakarta, Arini lebih senang belajar di kamarnya. Hari ini meja ini ditatanya kembali. Nek Ijah termangu berdiri di depan pintu melihat Arini sejak pulang kuliah sibuk membersihkan rumah.
"Ada apak Nek? Kenapa nenek melihatku seperti itu?"
"Tumben kau menata meja ini. Ada tamu ya."
"Iya Nek Aku akan belajar bersama teman-temanku sore ini."
"Temanmu yang mana? Tampaknya istimewa sekali orang yang mau datang," Nek Ijah penasaran.
"Ih, Nenek kepo deh, nau tahu aja urusan anak muda."
"Bukan kepo, tapi Nenek harus tahu, dengan siapa cucu cantik Nenek ini bergaul."
"Itu si Tia yang mau datang."
"Tia kan sudah biasa kesini. Tak perlulah disambut istimewa begini."
"Tukan apa Arini bilang, Nenek kepo, mau tahu aja," Arini merajuk.
"Tia datang sendiri?" tanya Nek Ijah lagi.
Nek Ijah yakin Tia tidak datang sendiri, pasti yang lain. Kalau tidak, kenapa Arini mengganti alas meja dan meletakkan bunga di atas meja.
"Tidak Nek, bersama si Fahri."
"Fahri? Fahri yang mana? Teman kampusmu juga."
"Iya Nek, teman satu kelas ku."
"Oh ya sudah. Kau hati-hati nanti di rumah. Di dapur ada makanan, Nenek masak tadi siang," Nek Ijah berlalu ke kamarnya.
"Nenek bikin apa? Pas banget Nek," jawab Arini dan mengikuti neneknya ke kamar.
"Kebetulan pisang di belakang rumah sudah masak, Nenek buat kolak pisang pakai durian."
"Wah pasti enak, makasih ya Nek."
Nek Ijah tersenyum dan senang sekali melihat cucunya bahagia. Sudah lama Arini tidak seceria ini. Mungkinkah Fahri orang yang istimewa bagi Arini? Kemudian Nek Ijah keluar lagi menyandang tas merah yang dirajut Arini.
"Kamu hati-hati di rumah ya Rin, Nenek mau pergi sebentar. Tolong ambilkan sandal Nenek di belakang."
" Sore begini Nenek mau kemana?"
"Ke rumah si Afni. Nenek mau membantunya memasak. Besok Fauzi kan mau menikah."
Arini terdiam mendengar kata neneknya.
"Bang Fauzi mau menikah? Itukan abangnya Andi. Andi pulang nggak ya. Ah sudahlah, kalau Andi pulang pasti besok Ia menemuiku." gumam Arini.
(bersambung)

0 comments