ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Cita-Cira Riski

Wednesday, March 11, 2020


Kamis, 12 Maret 2020

Ternyata permasalahan yang dihadapi Riski selama ini cukup berat menurutnya, sehingga menimbulkan rasa malu dan hampir putus asa. Sudah dua kali mengulang di kelas dua, ia belum bisa juga membaca dengan lancar. Terkadang Riski masih sulit untuk merangkai huruf. Terapi ia termasuk anak yang rajin.

Untuk mengetahui informasi secara detail memang kita harus menjalin komunikasi dengan orang tua. Dalam pertemuan dengan orang tuanya, aku coba mencari informasi bagaimana kegiatan yang dilakukan Riski di rumah. Menurut orang tuanya, Riski anak yang patuh, tidak pernah membantah kepada kedua orang tuanya. Riski juga tidak nakal, karena selama ini belum pernah ayah dan ibunya mendengar Riski berkelahi. Mungkin karena ia lahir prematur mengakibatkan ia agak lambat dalam memahami pelajaran.

"Kami minta tolong sama Ibu agar bisa membimbing Riski untuk lancar membaca," kata ayah Riski.

"Iya Bu, kami sedih melihat Riski sering melamun. Setelah ditanya katanya tidak Ada masalah di sekolah. Kami yakin ia merasa malu karena belum juga bisa membaca," Ibu Riski melanjutkan.

Buliran bening menggenangi sudut matanya.

"Kami sudah berusaha membimbingnya di rumah, tapi kami tidak bisa Bu," lanjutnya.

"Baiklah Bapak dan Ibu, kita bersama-sama membimbing Riski."

Berdasarkan data yang aku peroleh, sudah jelas langkah yang harus kulakukan. Aku meluangkan Waktuku untuk membimbing Riski lebih banyak dari siswa yang lain. Agar siswa yang lain merasa perhatianku terlalu berlebihan terhadap Riski, aku mencoba mengelompokkan siswaku berdasarkan kemampuan belajarnya. Kelompok satu bagi siswa yang sudah lancar membaca, kelompok dua yang sudah mulai bisa merangkai kata, dan kelompok ketiga baru bisa merangkai huruf. Riski bergabung dengan beberapa temannya dalam kelompok tiga. Bukan bermaksud membeda-bedakan siswa, dengan adanya pengelompokkan ini aku bisa memberikan bimbingan sesuai permasalahan yang mereka hadapi.

Dari hari ke hari banyak sekali perkembangan belajar Riski. Sekarang ia sudah  bisa mengenal huruf dengan baik dan merangkainya menjadi beberapa kata. Riski terlihat semakin bersemangat. Ketika jam pelajaran usai aku meluangkan waktu untuk memberi jam tambahan buat riski dan beberapa temannya.

"Aku harus bisa membantu mereka. Mereka bukan anak yang bodoh. Hanya lambat dalam memahami, dan butuh waktu lama untuk berfikir. Insya Allah mereka bisa," gumamku.

Setiap anak akan tumbuh sesuai irama perkembangan masing-masing. Agar kemampuan mereka berkembang lebih baik, makanya mereka perlu diberi motivasi

(bersambung)

Share This :

0 comments