ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Cita-Cita Riski

Tuesday, March 10, 2020


Selasa, 10 Maret 2020

(bagian 2) 

"Riski kenapa malu," kataku sambil membelai rambutnya.

"Bang Riski tinggal tu Bu," jawab Nino tanpa dosa.

"Nino, tak boleh bicara seperti itu nak, lihat tu Riski jadi sedih, " selaku seraya menggoyang-goyangkan telunjuk ke arah Nino pertanda yang dilakukan Nino tidak baik.

"Maaf Bu," jawab Nino merasa bersalah.

"Anak-anak, kita tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati teman. Tadi sudah Ibu bilang kita semua bersaudara. Sesama saudara tidak boleh saling menyakiti.," Aku menasehati mereka.

Itulah kebiasaanku, jika ada sikap siswaku yang kurang tepat, saat itu juga diperbaiki agar mereka mengetahui kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi.

Sekarang Aku paham kenapa Riski merasa malu, karena teman- temannya di kelas tiga seumuran dengan adiknya. Riski sudah dua kali tinggal kelas. Saat ini adalah tahun ketiga ia di kelas yang sama. Aku ingin membantu Riski agar ia bisa keluar dari kesulitan yang ia hadapi. Aku yakin suatu saat Riski akan berhasil seperti teman-temannya. Ini adalah tantangan bagiku, Aku akan berusaha semampuku.

"Anak-anak, sekarang kalian sudah duduk di kelas tiga. Tentunya pelajaran juga sudah semakin sulit. Karena itu Ibu berharap tidak ada  anak-anak Ibu yang bermain-main dalam belajar. Kalian tentu punya cita-cita bukan."

"Iya Bu," Jawab anak-anak serentak.

"Nah sekarang, Ibu ingin tahu apa cita-cita kalian."

"Saya ingin jadi dokter Bu," kata Harun sambil mengacungkan tangan.

"Wah hebat Harun. Kenapa Harun mau jadi dokter?" tanyaku dan mendekat ke bangku Harun.

"Iya Bu, minggu kemaren Kakek sakit. Ibu tidak bisa membawa ke rumah sakit, Ibu tidak punya uang Bu. Kemudian Kakekku meninggal dunia, huu huu," jelas Harus sambil menangis.

"Kalau Aku jadi dokter, Aku akan obati orang-orang sakit yang tidak punya uang Bu. Mereka tak perlu membayar," sambung Harun.

"Mulia sekali hatimu Nak, semoga cita-citamu tercapai ya."

Harun sangat sedih kakeknya meninggal, ia sangat dekat dengan kakeknya.

"Kalau Aku ingin jadi Guru seperti Ibu," kata Rahmi.

"Wah cita-citamu juga mulia sayang. Kenapa Rahmi mau jadi guru."

"Kata Ibu jadi guru itu banyak pahalanya. Nanti kalau meninggal kita masuk surga Bu," kata Rahmi mengangkat tangannya layaknya seorang guru yang sedang mengajar.

"Bagus Rahmi, ibu bangga sekali."

"Aku ingin jadi pilot Bu," Arman tak mau ketinggalan.

"Oh ya, kenapa Arman mau jadi pilot," pancingku.

"Pilot itu kan mengemudi pesawat Bu. Nanti Aku bisa terbang di udara dan  jalan-jalan ke luar negeri."

Teman-teman Arman tepuk tangan melihat gaya Arman bercerita sambil melambai-lambaikan tangannya.

Satu persatu siswaku mencerirakan cita-cita mereka. Akhirnya tiba giliran Riski. Tapi Riski hanya senyum-senyum saja ketika kupanggil namanya.

"Ayo Riski, kalau besar nanti Riski mau jadi apa?

"Aku ingin membuatkan mesin untuk membajak sawah, Bu. Agar nanti ayah ke sawah tak perlu pakai cangkul lagi. Aku kasihan melihat ayah dan ibuku susah ke sawah. Biar aku saja yang mengerjakan sawah, tapi pakai mesin" kata Riski seraya menyeka air matanya.

Aku juga terharu mendengarkan. Ternyata dibalik sifat pendiamnya Riski, ia mempunyai cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya

"Semua cita-cita kalian sangat mulia nak. Karena itu kalian harus belajar dengan rajin, tekun, dan selalu patuh pada orang tua dan gurumu. Kalau kita berusaha Insya Allah akan dikabulkan oleh Allah.

Aku sangat senang sekali hari ini. Di hari pertama sekolah siswa-siswaku telah memperlihatkan semangatnya dan juga dengan berani mencerirakan cita- citanya. Ini adalah awal yang baik. Semoga saja aku bisa membantu mereka mencapai cita-citanya. Wajah Riski terlihat berseri, terpancar di wajahnya kepuasan hatinya puas setelah menyampaikan keinginannya untuk memanjakan orang tuanya. Ia teringat setelah menerima rapor kenaikan kelas kemaren ayah dan ibunya merasa sedih melihat kegagalannya. Ibunya sampai menitikkan air mata karena sangat berharap Riski bisa menjadi anak yang pintar dan sukses.

"Bu, ibu mau membantuku," Riski berdiri di samping mejaku.

"Mau sayang. Memangnya Ibu harus bantu apa?"

Kali ini Riski tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya. Air matanya mulai membasahi pipinya. Entah apa yang saat ini ia pikirkan.

"Ibu akan bantu kamu, tapi jelaskan dulu, Ibu harus bantu apa?"

Riski hanya tersenyum menatapku

(bersambung)


Share This :

0 comments