ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Cita-Cita Riski

Wednesday, March 11, 2020


Rabu, 11 Maret 2020

Setidaknya perasaan Riski sudah lega, ia bisa mengungkapkan cita-citanya di depan Bu Guru dan teman-temannya. Seperti juga anak-anak yang lainnya, Riski juga punya keinginan yang selalu tumbuh berkembang dalam hatinya. Cita-citanya sangat sederhana. Tidak berharap menjadi dokter, tidak juga ingin jadi seorang Polisi. Ia juga tidak sanggup menjadi seorang guru. Karena menurutnya semua itu bisa dicapai dengan kecerdasan. Sementara dirinya  ada masalah dalam belajar. Ia malu tidak bisa menguasai materi pelajaran di kelas tiga, sehingga harus berulang duduk di kelas ini. Tapi Riski tidak putus asa, ia hanya butuh motivasi dan dukungan dari orang lain.

"Ok anak-anakku, sekarang kalian sudah punya cira-cita. Tugas kalian sekarang begaimana cara untuk mencapainya."

"Baik Bu," jawab anak-anak lagi.

Hari pertama sekolah, semua siswa terlihat gembira. Mereka bangga karena semua keinginan mereka didengar Bu Guru. Satu persatu aku mulai memahami siswaku. Sebagai dasar bagiku menentukan metode dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tak mungkin satu metode digunakan untuk semua siswa.

Aku menyadari masing-masing siswa mempunyai kelebihan dan kekurangan. Masing-masing siswa juga mempunyai keunikan tersendiri. Tugasku nanti memberikan bimbingan dan pelayangan sesuai karakter mereka. Indahnya suasana jika berkumpul bersama mereka.

"Bu, nanti kita belajar menyanyi ya Bu," kata Anisa yang duduk di pojok kanan.

"Boleh, Anisa bisa menyanyi?" tanyaku.

"Bisa Bu. Kemaren Ayah membelikan  kaset lagu anak-anak. Banyak sekali lagunya. Ada Pelangi-pelangi, bintang kecil, bunda piara. Aku paling suka menyayikan bunda piara. Aku sayang bunda, bunda telah mengasuhku sejak kecil," kata Anisa dengan polosnya.

Kelas jadi riuh. Anak-anak bergantian tunjuk tangan menyampaikan hobbynya. Ada yang suka olah raga, suka membaca puisi, menggambar, pantomim, musik, menari, dan banyak lagi yang lain.

" Aku suka main bola Bu, " kata Riski yang dari tadi hanya membiarkan teman-temannya berceloteh.

"Bagus Riski, nanti kamu juga bisa ikut kegiatan ekskul olah raga di sekolah kita. Ibu yakin kamu bisa jadi pemain bola yang hebat," kataku memberi motivasi.

Sedikit demi sedikit sudah terlihat bagaiman Riski yang sebenarnya. Yang masih mengganjal dalam hatiku, kenapa Riski tidak bisa memahami pelajaran, apa permasalahan yang sangat berat yang ia rasakan. Aku akan tetap menguak semua teka teki ini. Besok Aku akan menghubungi orang tuanya, semoga ada titik terang.

(bersambung)

Share This :

0 comments