Jumat, 13 Maret 2020
Berada di antara mereka merupakan suasana yang menyenangkan bagiku. Tingkah lucu mereka membuat rindu ingin selalu bersama mereka. Hari ini aku mengajak siswaku belajar di alam terbuka. Halaman sekolah memang tidak begitu luas, tapi cukuplah tempat bermain bagi mereka. Dibandingkan dengan jumlah siswa yang hampir 200 orang memang kurang kondusif dengan luas halaman yang kami milki. Karena pak Abas penjaga sekolah sangat telaten dan pandai menatanya, sehingga halaman ini terlihat indah dan nyaman. Aku juga memberikan masukan kepada Pak Abas untuk membuat taman dan tempat duduk bagi siswa jika mereka berada di luar jelas. Pak Abas sangat menerima, akhirnya ya beginilah sekolah kami. Sekolah rindang, tertata indah membuat semua warga sekolah merasa betah.
Hari ini aku mengajak siswaku untuk mengamati tanaman bunga dan obat-obatan yang ada di lingkungan sekolah. Tanaman yang tumbuh subur di taman yang selalu dirawat oleh Pak Abas. Semua siswa mencatat di buku masing-masing. Mereka sangat senang. Terdengar suara riuh tawa canda mereka sambil berlarian ke taman sekolah. Aku berjalan berkeliling mengamati mereka. Perhatianku tertuju kepada Riski dan Yudi tengah asyik di taman bunga samping sekolah. Mereka tertawa cekikikan, entah apa yang sedang dibicarakan. Riski sekelompok dengan Yudi yaitu kelompok tiga.
"yud, Aku sudah dapat lima macam bunga, kamu gimana,?" kata Riski sambil memperlihatkan catatannya.
"Wah kamu hebat Riski, Aku batu tiga," jawab Yudi.
Sesuai dengan kemampuan mereka untuk membuat tiga jenis bunga merupakan keberhasilan yang luar biasa, karena mereka berdua baru pandai merangkai huruf.
"Kita teruskan yuk!" ajak Riski.
"Ayuk," jawab Riski.
"Aku harus bisa membuat sepuluh macam bunga Yudi. Aku ingin buat Bu Guru senang."
"Aku juga, kita harus bisa Riski. Kita berdua pasti bisa kalahkan Arman," jawab Yudi bersemangat.
Sebenarnya Aku masih ragu apakah mereka benar-benar bisa menuliskan sepuluh jenis bunga dengan benar.
"Riski dan Yudi, sudah selesai Nak?" sapaku dan duduk di samping mereka.
"Sedikit lagi Bu," jawab mereka serentak.
"Ok Ibu tunggu di kelas ya."
"Baik Bu."
Waktu yang ditetapkan sudah selesai. Semua siswa masuk kelas kembali. Untuk selanjutnya masing-masing siswa akan melaporkan hasil yang mereka buat tadi.
"Anak-anak, bagaimana belajar kita hari ini, kalian senang?" Aku membuka pelajaran setelah siswa mengerjakan tugas yang Aku berikan
"Senag Bu," jawab anak-anak serentak.
"Bu besok kita ulangi lagi ya," timpal Surya.
"Iya Bu. Tadi Aku dapat sepuluh macam bunga, lima macam tanaman obat," Rani berbicara dengan semangat.
"Wah, hebat Rani," kataku sambil mengacungkan jempol.
"Aku juga dapat 3 macam sayuran Bu," kata Ridwan tak mau kalah.
"Semua anak-anak Ibu pintar-pintar. Sekarang siapa yang mau ke depan melaporkannya."
"Saya Bu," Riski tampil dengan percaya diri.
Selama ini Riski tidak mau jika di suruh ke depan, ia takut akan ditertawakan oleh teman-temannya. Tapi sekarang ia langsung tunjuk tangan. Kejutan apa yang akan diberikan Riski. Kami semua penasaran.
Riski membacakan sepuluh macam tanaman bunga dan 3 tanaman obat-obatan yang ia temukan di taman tadi. Walaupun Riski mengucapkannya masih terbata-bata. Bagiku itu suatu kemajuan yang luar biasa. Setelah Aku cek catatannya, tulisan Riski benar semua. Hanya cara menuliskan saja yang perlu diperbaiki.
"Alhamdulillah, makasih Riski. Ibu bangga sekali melihat kegigihanmu dalam belajar. Ibu yakin cita-citamu untuk naik ke kelas empat bisa kamu wujudkan," kata sambil menyalami Riski.
Semua teman-teman Riski tepuk tangan. Satu persatu anak-anakku melaporkan apa yang telah mereka lakukan. Mereka sangat gembira dan puas.
" Anak-anakku sayang. Apa Ibu bilang kemaren. Jika kita sungguh-sungguh belajar, pandai membagi waktu, dan selalu mengulangi pelajaran di rumah, Isya Allah akan diberi kemudahan oleh Allah. Semua cita-citamu akan tercapai Nak. Hari ini kalian telah memberikan kejutan kepada Ibu. Kalian telah menepati janji yang telah diucapkan ketika awal sekolah. Ibi bangga sekali. Semoga kelak anak-anak Ibu semua jadi orang sekses, Aamiin."
Aku menutup pelajaran dan memberikan penguatan. Hari ini betul-betul menyenangkan bagi seorang guru yang selalu berharap semua siswanya berhasil.
"Kita akhiri pelajaran kita hari ini dengan berdoa. Nantikan kejuran yang akan Ibu berikan besok," jawabku menutup pelajaran.
(bersambung)

0 comments