ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Cita-Cita Riski

Saturday, March 14, 2020


Sabtu, 14 Maret 2020

Tanpa terasa, hari berganti hari, bulanpun bertukar, berbagai kegiatan  telah kulakukan bersama siswaku. Mulai dari membimbing siswa yang lambat memahami pelajaran, lemah dalam membaca dan menulis, sampai memberikan pengayaan bagi siswa yang berprestasi. Kelas yang selama ini dibagi atas tiga kelompok sekarang sudah menjadi satu kelompok. Semua siswa telah memiliki kemampuan yang hampir bersamaan. Riski yang pada awalnya merasa malu dan putus asa karena telah berulang kali tinggal kelas, sekarang sudah lancar membaca dan menulis.

Hari ini hari pertama pelaksanaan ujian kenaikan kelas. Pelaksanaan ujian tidak lagi dibacakan  soalnya, aku memberikan kesempatan kepada masing-masing siswa untuk membaca sendiri. Setelah dikonsultasikan dengan kepala sekolah beliau sangat mendukung untuk melatih kemandirian siswa mengerjakan soal ujian. Aku juga yakin semua siswaku bisa memahami soal ujian dengan baik, karena semua siswaku telah lancar membaca dan menulis.

Kelas terlihat tenang. Semua siswa konsentrasi menjawab soal ujian yang telah dibagikan. Sesekali terdengar suara Riski mengeja kalimat yang terdapat kosa kata yang sulit. Sampai hari terakhir kegiatan terlaksana dengan lancar. Tak ada keluhan dari siswaku, berarti mereka bisa  memahami dan menjawab dengan baik.

"Bu, aku sudah selesai," terdengar lantang suara Anisa dari belakang.

"Aku juga bu," jawab yang lainnya.

"Baik, semua lembaran jawaban silakan dikumpul ke depan dan kita tutup dengan doa. Anak-anak semua boleh pulang. Jangan lupa belajar untuk ujian besok."

***
Aku bangga hasil ujian siswaku kelas 2 cukup bagus. Tak berapa siswa nilai mereka di bawah KKM. Kuteli satu persatu nilai Riski. Cukup bagus, hanya dua muatan pelajaran di bawah KKM. Dari hasil ujiannya, Riski bisa naik ke  kelas empat. Hatiku sangat bahagia. Aku berhasil membantu siswaku menyelesaikan masalah yang sangat membuat ia tertekan selama ini. Kesulitan dalam membaca yang membuat ia gagal selama ini, telah berhasil Ia tuntaskan. Semua berkat kerjasama dengan orang tuanya.

Suasana kelas hening. Tak terdengar tawa canda siswaku seperti hari-hari sebelumnya. Mereka larut dengan perasaan masing-masing. Riski duduk termenung di bangkunya. Sepertinya ia enggan untuk beranjak. Kecemasan  terlihat jelas di wajahnya.

"Kamu kenapa Ki?" tanya Yudi yang duduk di samping Riski.

"Aku takut Yud, jangan-jangan aku tinggal lagi. Aku malu sama teman-teman, aku juga takut kena marah oleh ayah dan ibuku," suara Riski serak, ada gumpalan bening di sudut matanya.

"Kamu jangan takut, kamu sudah pandai membaca," jawab Yudi menghibur.

"Entahlah."

"Kita tunggu saja pengumuman. Sebentar lagi rapor kita juga akan dibagikan Bu Guru."

Sebelum mengumumkan peringkat kelas dan pembagian rapor, aku beri penguatan.

"Anak-anak, sebentar lagi akan Ibu bagikan rapor kalian. Ibu bangga dengan prestasi kalian tahun ini."

Selesai pembagian rapor, Riski berlari ke arahku, " Makasih Bu, Aku naik ke kelas empat. Cita-citaku tercapai bu. Untuk selanjutnya Aku akan lebih giat lagi belajar, agar aku bisa membuatkan mesin membajak sawah untuk ayahku. Aku akan berusaha Bu."

Aku terharu, sampai tidak menyadari air mata membasahi pipiku.

"Bukan karena Ibu Nak, ini hasil kerja kerasmu selama ini. Ketekunanmu belajar  berbuah manis. Ibu tahu kamu anak yang pintar. Dan ibu yakin kelak cita-citamu akan tercapai."

Kupeluk tubuh Riski. Keberhasilannya adalah kebahagiaan orang tuanya dan kepuasan batin bagiku. Aku benar-benar berhasil menjadi seorang guru. Semoga akan lahir siswa-siswa yang punya semangat belajar yang tinggi seperti Riski.

Share This :

0 comments