Kamis, 5 Maret 2020
Arini masih terdiam duduk di meja riasnya. Ia masih memikirkan permintaan nenek kemaren. Ia harus menentukan sikap. Walau sebenarnya neneknya tidak memaksa, tapi hal ini juga sudah seharusnya jadi pemikirannya.
Arini menatap ke depan. Ada seorang gadis yang juga tak berkedip memandang kearahnya. Bayangannya yang ada dalam cermin terlihat sudah semakin matang dan semakin dewasa. Arini mengingat-ingat kembali perayaan ulang tahunnya bersama siswanya beberapa hari yang lalu, ternyata usianya hampir kepala 3. Usia 27 tahun adalah usia yang sudah matang bagi seorang wanita untuk melangsungkan perikahan. Yang jadi masalahnya sekarang Arini belum mempunyai calon.
Mengharapkan Andi sudah tidak mungkin. Meminta Fahri untuk meminangnya itupun juga tidak mungkin. Walaupun selama ini ia tahu Fahri menyukainya dan pernah meminta untuk menjadi kekasihnya, tapi belum tentu juga Fahri mau menjadi pendamping hidupnya.
"Arini, Kamu harus menentukan pilihan, Andi atau Fahri. Atau menerima calon pilihan nenek," Arini berbicara sendiri.
Arini menyisir rambutnya yang ikal terurai sampai ke pinggang. Tidak banyak orang yabg tahu rambut Arini ikal dan panjang, karena mahkotanya ini selalu terbalut hijab sejak kecil. Sesekali senyumannya mengembang menghiasi bibir mungilnya, mengamati wajah cantiknya di cermin rias.
"Rin, kok belum berangkat kerja. Nanti terlambat," suara Ijah terdengar lantang dari ruang tamu.
"Iya Nek, ini lagi siap-siap."
Arini bergegas memasang hijabnya. Dibiarkan saja meja rias berantakan. Tak sempat lagi membereskan. Karena bingung menentukan pilihan Arini sampai lupa kalau hari ia harus menjadi pembina upacara. Diambil tas dan segera berangkat ke sekolah. Tidak begitu nyaman hatinya berangkat kerja pagi ini, karena sampai saat ini ia belum bisa mengambil keputusan. Sedangkan ia harus memberi jawaban kepada nenek nanti malam.
Arini memacu langkahnya agar tidak terlambat sampai di sekolah. Arini menoleh ke belakang tak satupun angkot yang lewat. Biasanya banyak kendaraan lalu lalang, tapi sekarang jalanan sepi. Hanya ada satu-satu truk yang lewat. Diliriknya jam tangan yang melingkar indah ditangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 7.00.
"Astaga. Aku pasti terlambat. Bagaimana ini."
Arini terlihat panik. Jilbab kuning yang dikenakannya serasi sekali dengan kulitnya yang putih. Walaupun wajahnya tegang tidak mengurangi kecantikannya. Angin bertiup sepoi-sepoi mengibas-ngibaskan ujung jilbab yang membuat wajahnya tertutup. Tiba-tiba berhenti sebuah mobil di sampingnya.
"Ayo Bu Guru, saya antar nanti terlambat."
Arini menoleh ke arah datangnya suara. Betapa kagetnya Arini melihat pemuda ganteng yang ada di atas mobil.
(bersambung)

0 comments