Selasa, 3 Maret 2020
Semenjak kembali dari kampung halaman sikap Andi sedikit berubah. Ia lebih banyak menyendiri dari pada berkumpul bersama teman-temannya. Ia berusaha untuk menerima kenyataan kalau sekarang Arini sudah memiliki kekasih yang selalu mendampinginya. Pria tampan dan baik hati. Mereka adalah pasangan yang serasi. Walau sejujurnya Ia belum bisa menerima kenyataan ini, mungkin ini yang terbaik baik buat Arini.
Mulai saat itu Andi tidak lagi memikirkan urusan perasaan. Ia lebih fokus untuk menyelesikan pendidikannya. Bulan depan adalah jadwalnya untuk mengikuti ujian Skripsi. Andi menyiapkan segalanya agar ujian berjalan lancar dan ia bisa lulus dengan nilai yang terbaik.
Arini juga mencoba membuka hatinya untuk bersahabat dengan Fahri, karena menurutnya tidak mungkin lagi berharap bisa bertemu dengan Andi. Bahkan nomo HP-nya juga sudah diblokir, sehingga Arini tak bisa lagi menghubungi Andi. Pernah terpikirkan oleh Arini untuk meminta nomor Andi kepada ibunya, mungkin saja Andi telah mengganti nomornya dengan yang baru. Tapi Arini mengurungkan niatnya, mungkin Andi sengaja memblokir nomornya karena ia kecewa melihat kebersamannya dengan Fahri.
"Suatu saat jika ada kesempatan Aku akan menjelaskan semuanya kepada Andi," gumam Arini.
"Jika Allah mengizinkan kami untuk bersatu, suatu saat pasti akan ada jalannya. Sekarang Aku akan fokus dulu untuk menyelesaikan pendidikanku," Arini meyakinkan hatinya.
Peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu telah membuat Arini dan Andi salah paham. Kini mereka telah menamatkan pendidikan . Predikat cumlaude mereka kantongi.
Arini tidak melanjutkan pendidikannya, ia lebih berharap bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan. Untuk saat ini kebahagiaan nenek lebih utama. Ia tidak ingin melihat neneknya banting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka di usianya yang semakin senja.
"Nek, Aku akan melamar di SMA tempat aku sekolah dulu. Daokan ya Nek, mudah-mudahan diterima," kata Arini kepada Nek Ijah ketika mereka memasak di dapur.
"Kalau itu menurutmu yang terbaik, Nenek selalu mendukung Nak. Setelah mendaftar Kamu bisa langsung menjadi Guru di sana ya. Wah Nenek bangga sekali punya cucu seorang Guru. Guru itu pekerjaan yang sangat mulia Rin."
"Untuk saat ini Aku melamar sebagai guru honor dulu Nek, kalau sudah ada test ubtuk pengangkatan menjadi PNS akan ikut lagi," jelas Arini.
Nek Ijah mangut-mangut. Sebenarnya ia tidak paham apa yang dikatakan Arini. Tapi Nek Ijah selalu berharap Aroni cepat dapat pekerjaan dan segera menikah. Ia khawatir, jika suati saat Allah memanggilnya, siapa yang akan menjaga Arini. Aia mata Nek Ijah berlinang.
"Nenek kenapa menangis. Ada yang salah dengan ucapanku Nek," Arini cemas melihat air mata neneknya mulai menggenangi sudut matanya.
Arini paling tak tahan melihat neneknya bersedih. Ia sangat mencintai neneknya. Hanya Nek Ijah satu-satunya yang ia miliki sekarang.
Berkat keyakinan dan kegigihan Arini, akhirnya ia diterima sebagai guru di sekolahnya dulu. Arini sangat mencintai profesinya. Semenjak bekerja, Arini tidak mengizinkan lagi neneknya menjahit. Sudah saatnya beliau beristirahat.
Di samping mengajar di sekolah, Arini membuka les gratis di rumahnya. Ia ingin berbagi dengan anak-anak di kampungnya.
Sementara itu Andi juga diterima bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Dari tahun ke tahun prestasinya semakin menanjak. Karena kesibukan dalam bekerja, Andi jarang pulang ke kampungnya. Jika kedua orang tuanya kangen mereka datang menemui Andi ke Jakarta.

0 comments