Rabu, 14 Maret 2020
Suatu hari Nek Ijah menemui Arini di kamarnya. Ada sesuatu yang ingin beliau ceritakan. Arini masih saja asyik menyelesaikan persiapannya untuk mengajar besok. Tanpa ia sadari neneknya telah lama menunggu dan duduk di sampingnya. Nek Ijah tidak tega mengganggu Arini. Ia bangga melihat cucunya yang sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya. Tapi menurut Nek Ijah apa yang akan beliau sampaikan juga sangat penting karena menyangkut masa depan Arini.
Melihat kegigihan Arini dalam bekerja, mengingatkan Nek Ijah kepada ibu Arini. Semua yang dilakukan Arini sama persis dengan apa yang dilakukan ibunya dulu. Santun berbicara, hormat kepada orang tua, gigh dan pantang menyerah, rajin beribadah dan suka menolong. Itulah sifat ibunya yang sekarang diwarisi Arini.
Ketika Halimah seusia Arini, ia merupakan Kembang Desa yang banyak disukai pemuda di kampung ini. Tapi Halimah tetap menjaga hatinya untuk tidak berpaling dari Syamsul, sampai akhirnya mereka menikah. Tapi hubungan mereka tidak lama. Ketika Arini berusia 9 tahun, ayah dan ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan di perempatan jalandekat Pertamina. Sehingga Arini menjadi yatim piatu dalam usia yang masih kecil.
"Nek, Nenek sudah lama disini?" kata Arini sedikit kaget melihat neneknya duduk memperhatikannya bekerja.
Suara Arini membuat Nek Ijah terbangun dari lamunannya.
"Sudah setengah jam yang lalu. Nenek tidak tega mengganggumu," jawab Nek Ijah.
"Ada apa Nek? Sepertinya ada hal penting yang akan Nenek sampaikan. Atau Nenek sakit?" kata Arini sambil meraba kening neneknya.
"Nenek tidak apa-apa. Ada sesuatu yang ingin Nenek sampaikan. Tapi kamu Nenek lihat sangat sibuk. Besok saja ya," jawab Nek Ijah seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu Nek, ada apa? Apa yang ingin Nenek sampaikan?"
"Begini, Nenek lihat sekarang kamu sudah menjadi gadis remaja, sudah bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri. Nenek bahagia sekali. Tapi akhir-akhir ini kondisi Nenek semakin menurun. Nenek sering sakit-sakitan Rin."
"Nenek sakit? Kita berobat ya Nek," kata Arini yang tidak memahami arah pembicaraan neneknya.
"Bukan itu maksud Nenek."
"Terus, apa Nek?"
"Nenek ingin Kamu segera menikah Nak. Apa Arini sudah punya calon?"
Ucapan Nek Ijah membuat Arini tersentak. Ia tidak menyangka kalau neneknya menginginkan ia secapatnya untuk menikah. Sementara sampai saat ini Arini belum mempunyai calon pendamping hidupnya. Belum terpikirkan baginya untuk berumah tangga.
Ingatan Arini kembali kepada Andi. Hanya Andi satu-satunya orang yang ia cintai, tapi beberapa tahun terakhir tidak ada lagi komunikasi di antara mereka. Bahkan Arini telah berusaha memghubungi Andi, tapi nomornya tidak aktif.
"Apakah Aku harus menerima Fahri yang selama ini sangat mengharapku?"
(bersambung)

0 comments