ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Kandas

Thursday, March 5, 2020

Day 21 Tantangan  Tiigapuluh HaBe
Jumat, 6 Maret 2020

Kandas

Pemuda itu menurunkan kaca mobilnya, sehingga Arini bisa melihat dengan jelas siapa pemilik fortuner hitam  yang berhenti di sampingnya.

"Tiooo," kata Arini seakan tidak percaya.

Tio hanya tersenyum memandang Arini yang masih diam terpaku. Arini benar-benar kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tio adalah temannya ketika di SMA dulu. Mereka hanya bisa bersama sampai kelas dua, karena Tio harus mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke kota lain. Sejak itu tak ada lagi kabar beritanya.

Ketika di SMA dulu Tio terkenal siswa yang usil. Ada-ada saja yang ia lakukan untuk mengganggu teman-temannya. Tio tidak pernah bisa diam, selalu saja beraktifitas walau terkadang membuat jengkel. Tio juga anaknya acak-acakan. Jika berpakaian tidak pernah rapi. Semua PR yang diberikan guru tidak pernah ia lakukan. Pagi-pagi sebelum masuk Tio mencari Arini untuk meminjam PR yang dibuat Arini. Arini tidak  bisa untuk menolak, karena dibalik sikap usil dan nakalnya, Tio juga sangat perhatian kepada teman-temannya, terutama teman perempuan.

Hari ini penampilan Tio sangat berbeda. Bukan karena mobil mewahnya, tapi ia berpakaian rapi, berwibawa dan mudah senyum. Itu makannya Arini kaget dan seakan tidak percaya.

"Heii, ayoo. Nanti terlambat lho. Katannya mau ke sekolah. Apa kata siswa nanti jika Bu Gurunya terlambat," kata Tio membuyarkan lamunan Arini.

"Iya, iya," tanpa pikir panjang Arini menaiki mobil mewah itu.

Dalam pikirannya sekarang bagaimana bisa cepat sampai di sekolah. Mobil melaju kencang. Baik Tio maupun Arini hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Arini sangat kagum dengan penampilan Tio sekarang.

"Kok bisa ya Tio berubah begini. Rasanya tak masuk akal Tio bisa berubah seratus delapan puluh derajat," pikir Arini.

Tio memandang lurus ke depan. Memacu kendaraannya agar tidak terlambat sampai di sekolah. Selain mengantarkan Arini, Tio juga ingin bersilaturrahmi dengan gurunya dulu. Rindu juga dengan suasana masa putih abu-abu. Kala anak muda mencari jati diri. Mobil mewah itu kini memasuki gerbang sekolah. Semua mata tertuju kepada mereka. Setelah mengucapkan terima kasih. Arini langsung pamit kepada Tio dan cepat-cepat menuju kantor untuk menghadap kotak sakti yang tergantung di dinding yang  sangat setia mencatat kehadiran guru dan karyawan.

"Nanti siang aku ke rumah ya Rin," kata Tio.

"Ok," jawab Arini sambil melambaikan tangannya kepada Tio.

Tio semakin mengagumi Arini. Ternyata Arini tidak pernah berubah bahkan sekarang bertambah cantik. Cantik rupa dan akhlaknya. Laki-laki mana yang takkan tertarik. Tio mengingat apa yang ia sampaikan kepada Nek Ijah kemaren, bahwa ia datang dan ingin melamar Arini. Nanti malam adalah waktu yang Nek Ijah janjikan untuk menjawabnya. Rasanya Tio sudah tidak sabar apa kira-kira jawaban yang akan ia terima.

"Mudah-mudahan Arini mau menerimaku. Sudah lama Aku menginginkan bisa menjadi pendamping hidup Arini. Perasaan yang selama ini Aku pendam. Sebenarnya sebelum pindah sekolah dulu, Aku ingin mengungkapkan perasaan ini kepada Arini. Tapi tak sempat, dan Aku tidak punya nyali untuk memulainya, khawatir Arini akan marah dan  menolakku. Karena Arini bukan tipe wanita yang suka berpacaran. Baginya semua teman sama tidak ada yang istimewa. Hanya Andi yang terlihat sangat dekat dengan Arini saat itu, tetapi mereka tidak pacaran. Semua harapan itu akan Aku wujudkan sekarang," batin Tio

Tio sekarang sudah berubah, tidak usil dan pemalas lagi. Dan ia juga sudah merasa mapan dan siap untuk berumah tangga. Jauh dari Arini membuat ia belajar menata diri dan berobah untuk bisa menjadi lelaki yang baik dan cocok sebagai pendamping Arini.

Tio menuju ruang majelis guru, duduk di bangku yang ada di teras sambil menunggu upacara bendera selesai. Tio ingin menemui bapak dan ibu gurunya. Dari tempat duduk Tio terlihat jelas upacara bendera yang sedang berlangsung. Arini tampil sebagai pembina upacara. Bahasanya yang tertata rapi membuat semua peserta terkesima. Arini memang pintar berpidato.

Selesai upacara bendera, semua siswa masuk kelas. Majelis guru juga menuju kantor mengambil perlengkapan yang akan digunakan untuk mengajar.

"Masih di sini Tio. Aku kira sudah pulang," kata Arini dan mendekati Tio.

"Belum Rin, Aku mau menemui bapak dan Ibuk Guru kita."

"Sebentar lagi beliau akan ke sini. Aku kek kelas dulu ya. Aku harus mengajar pagi ini."

"Ya, silakan," jawab Tio singkat.

Setelah bertemu ramah dengan bapak dan ibu gurunya yang masih mengajar di sekolah ini, Tio pulang ke rumah Bu Siska tempat ia dan keluarganya tinggal dulu. Sudah dua hari Tio menginap sambil menunggu keputusan yang akan diberikan Nek Ijah. Ia tidak berani berbicara langsung kepada Arini, khawatir kalau Arini sudah mempunyai calon pendampingnya. Sambil. Menunggu sore, Tio pergi bersama Bu Siska ke kebun di belakang rumahnya. Rasanya waktu berjalan terlaku lama. Tio sudah tidak sabar dengan jawaban yang akan ia terima. Apakah Arini mau menerimanya?

Share This :

0 comments