ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Kandas

Saturday, March 7, 2020


Minggu, 8 Maret 2020

Arini membenamkan wajahnya dibalik bantal dan menangis sekuat-kuatnya. Ia ingin melepaskan beban batinnya saat ini. Gemuruh dalam jiwanya terasa menyiksa. Pesan WA dari Andi membuat ia bimbing atas keputusan yang telah diambil. Berita inilah yang sangat ia tunggu-tunggu selama ini, tapi kenapa datang setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Tio.

Segera Arini mengambil wudhu dan melaksanakan  shalat agar hatinya bisa tenang. Selesai melaksanakan shalat Arini mencerirakan segala gundah yang mendera hatinya saat ini. Memohon ketetapan hati dan petunjuk kepada Allah, langkah apa yang harus ia lakukan. Begitulah gadis sholehah yang selalu mengadukan segala kegundahannya kepada sang Khalik. Arini tidak mau menceritakan sesuatu yang ia anggap sebuah rahasia kepada orang lain, karena belum tentu orang yang mendengarkan bisa memahami dan memberikan solusi terbaik untuknya.

Sekarang perasaan Arini sudah sedikit tenang. Ia balas pesan WA Andi karena ia tak mau sahabatnya lama menunggu dan membuat semakin kecewa.

"Waalaikum salam Andi. Alhamdulillah Aku di sini baik-baik saja, semoga dirimu juga demikian dan selalu sukses beraktivitas," jawab Arini seadanya tanpa memperlihatkan  gembira atau gundah yang saat ini dirasakan.

Andi sangat berbunga-bunga mendengar kabar dari Arini. Walaupun menurut Andi jawaban Arini dingin sekali tidak seperti balasan WA selama ini. Tapi setidaknya Andi merasa lega karena ternyata Arini tidak marah kepadanya.

Nek Ijah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Arini yang semakin dekat. Semua karib kerabat dihubungi. Berita ini juga sudah diketahui semua penduduk kampung. Bu Afni sedikit kaget mendengar berita ini, berarti harapannya untuk menjadikan Arini menantu tidak bisa ia dapatkan. Arini juga semakin yakin dengan keputusan yang telah ia ambil. Ia dengan ikhlas menerima Tio dan berjanji akan berusaha menjadi seorang istri yang berbakti kepada suaminya.

"Nek, kalau boleh Aku meminta, tidak usah ada pesta Nek, cukup acara ijab kabul saja. Kita tak punya uang untuk itu Nek," kata Arini kepada Neneknya yang tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak hari ini. Rasa gotong royong masyarakat di kampung Arini masih kental. Jika ada warga yang akan pesta, maka mereka bersama-sama membantu memasak makanan sampai melaksanakan kegiatan selama pesta berlangsung.

"Kamu tenang saja sayang, semua sudah Nenek siapkan."

"Sudah Nenek siapkan? Nenek dapat uang dari mana?" tanya Arini kaget.

"Selama ini Nenek selalu menyisihkan uang belanja kita. Nenek ingin membuat pesta pernikahanmu meriah Arini, tentunya meriah sesuai keuangan kita. Bukan hanya Ijab Kabul saja Sayang. Pernikahan ini adalah hari yang bersejarah bagimu. Nenek berharap hanya sekali seumur hidupmu."

"Tapi Nek."

"Sudahlah, sekarang lebih baik Kamu tata kamarmu," jawab Nek Ijah lagi.

Arini juga heran, dari mana nenek dapat uang. Semua kebutuhan untuk peseta sudah tersedia, mulai dari tempat tidur, lemari, meja rias, bahkan nenek juga membelikan pakaian pengantennya dan sudah selesai dijahit nenek kemaren. Dalam waktu satu minggu semua sudah tersedia. Arini tidak tahu kalau Tio juga telah membantu Nek Ijah. Tio tidak ingin Nek Ijah susah memikirkan biaya pernikahannya dengan Arini.

"Ya sudah, sekarang sebaiknya aku menata kamarku dulu. Bukankah tadi nenek sudah menjelaskan kalau selama ini nenek sudah menabung untuk pesta yang akan dilaksanakan ini," kata Arini menghibur hatinya.

Hari yang dinanti-nantipun tiba. Arini cantik sekali mengenakan pakaian pengantin yang dijahitkan neneknya. Semua sanak famili dan orang kampung sudah berkumpul. Tio dan keluarganya juga sudah datang. Alhamdulillah Ijab Kabul berjalan lancar. Sudah resmilah Arini menjadi istri Tio si Manajer Bank yang tampan.

Arinindan Tio duduk di pelaminan. Serasi sejali pasangan penganten ini. Semua sanak famili dan masyarakat datang memberikan doa restu. Tio sangat bahagia akhirnya ia dapat mempersunting gadis pujaan hatinya. Pesta berjalan meriah.

Siang itu Andi datang dari Jakarta. Seperti yang ia janjikan Andi akan menemui Arini. Andi saat ini sudah yakin akan mengungkapkan semua perasaan yang terpendam selama ini. Andi tidak melihat ibuknya. Rumah didapatinya dalam kondisi terkunci.

"Ibu kemana ya, kok rumah terlihat sepi."

Akhirnya Andi memutuskan untuk langsung saja ke rumah Arini. Betapa kagetnya Andi melihat ada pesta di rumah Arini.

"Siapa yang menikah? Apakah Arini? Kenapa kemaren ia tidak memberitahu?" kata Andi dalam hati.

Saat Andi masih berdiri terpaku sambil menguasai gemuruh di dadanya, tiba-tiba Nek Ijah mendekatinya.

"Alhamdulilllah Nak, akhirnya Kami datang juga. Ayo masuk," ajak Nek Ijah dengan polosnya.

"Siapa yang menikah Nek?"

"Arini, sahabat sejatimu," kata Nek Ijah lagi.

"Arini?"

Andi benar-benar tidak bisa menahan gemuruh di dadanya. Tubuhnya menggigil, aia mata berlinang. Seakan tidak percaya yang ia lihat saat ini. Hancur hatinya, sirna sudah semua harapan.

"Salah Aku juga, kenapa tidak dari dulu mengungkapkannnyabkepada Arini."

Andi pulang dengan langkah guntai. Semoga Arini bahagia dengan pilihannya. Hanya doa yang bisa ia kirimkan buat Arini. Tak sanggup rasanya untuk mengucapkan langsung kepada Arini. Tak sanggup melihat Arini berdampingan dengan laki-laki lain, apa lagi laki-laki itu adalah temannya sendiri. Tak salah komitmen yang telah kami ucapkan di masa putih abu-abu. Menjadi teman sejati untuk selamanya.

(tamat) 

Share This :

0 comments