Simi si Pemalas
Samu dan Simi adalah dua bersaudara yang selalu hidup rukun. Sejak kepergian orang tuanya, Samu dan Simi hanya tinggal berdua. Mereka harus berjuang untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Bulan pertama ditinggal ibunya, Samu dan Simi selalu menangis, mereka bingung dan takut apakah nanti bisa melewati semua tantangan hidup.
Seiring berjalan waktu, Samu sudah bisa menerima kenyataan, semangat hidupnya kembali tumbuh. Tapi Simi tidak bisa keluar dari rasa sedihnya, hingga sifatnyapun berubah. Ia tidak peduli lagi dengan dirinya, tak mau bekerja, ia lebih suka bermalas-malasan.
Simi selalu menikmati hidupnya dengan santai. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan makanan yang akan dimakan setiap hari. Sementara Samu dan teman-temannya sudah berangkat mencari makanan, Simi hanya tidur-tiduran saja di rumah.
Suatu hari Samu mengajak Simi pergi ke hutan untuk mencari makanan.
“Mi, ayo kita berangkat, di hutan sana ada makanan yang lezat,” kata Samu kepada Simi
.
“Ke hutan? Aduh aku tidak bisa ikut Samu, badanku kurang enak,” jawab Simi berpura-pura sakit dan menarik kembali selimutnya.
“Oh, kamu sakit ya. Ya sudah istirahat sajalah dulu di rumah,” jawab Samu sambil berlalu.
Dengan senang hati Simi melanjutkan tidurnya. Dalam hati ia mengatakan bahwa Samu adalah saudara yang paling bodoh karena mau saja dibohongi.
“Tidur lagi ah, semoga aku bisa melanjutkan mimpi indahku tadi malam,” kata Simi sambil merebahkan badannya kembali di tempat tidur.
Samu sudah berangkat dengan teman-temannya ke hutan. Mereka berjalan beriring-iringan sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
“Mudah-mudahan hari ini kita mendapatkan makanan yang banyak ya teman-teman,” kata samu sambil menghampiri teman-temannya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi semut yang selalu bekerja sama dalam melakukan suatu pekerjaan. Betapapun besarnya makanan yang akan mereka angkat, karena mereka melakukannya bersama-sama, sehingga beban berat itu menjadi ringan.
Di Hutan gerombolan semut ini mendapatkan makanan yang lezat, sebuah roti yang ditinggal oleh pak Tani di kebunnya. Betapa senangnya hati Samu, hari ini dapat membawakan makanan lezat untuk adiknya. Samu dan teman-temannya berjalan beriringan mengangkat roti sambil benyanyi-nyanyi kecil. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Air mengalir dengan deras. Seketika terjadi banjir. Samu dan teman-temannya mencoba menyalamatkan diri dengan naik ke atas pohon.
"Yaa, nggak jadi deh kita makan enak hari ini teman-teman, makanan kita hanyut," kata Samu kepada teman-temannya.
"Sabar Samu, nanti kita cari lagi," bujuk si gendut.
"Teman-teman, aku duluan pulang ya, aku khawatir dengan Simi. Tadi pagi aku tinggalkan ia sedang sakit," kata Samu.
"Kalau begitu kita pulang saja Samu, besok kita ke hutan lagi. Sekarang sudah sore," jawab gendut.
Mereka berjalan dengan langkah gontai, karena hari ini tidak ada rezeki yang bisa di bawa pulang.
Tapi mereka bersyukur masih bisa selamat dari banjir.
Sampai di rumah alangkah terkejutnya Samu, karena ia tidak melihat Simi.
" Simi di mana ya. Simi, Simiii, kamu di mana?" Samu semakin cemas.
Sayup-sayup Samu mendengar isak tangis. Suaranya jauh sekali.
"Suara tangis siapa itu?" gumam Samu.
"Mungkinkah itu Simi?"
"Simi, Simii, kamu di mana", teriak Samu sambil mencari sumber suara itu.
"Tolong Samu, aku di sini. Tolooong. Aduh sakiiiit," teriak Simi.
Alangkah terkejutnya Samu melihat saudaranya terjepit di bawah kayu yang ada di halaman rumah mereka. Tubuhnya lemah karena sudah lama menahan sakit.
"Simi, kamu kenapa? “
"Maafkan aku Samu. Aku telah berbohong padamu. Tadi pagi aku hanya pura-pura sakit. Aku tidak mau ke hutan. Aku lebih suka bermalas-malasan," Simi menundukkan kepalanya.
Ia malu pada saudaranya. Karena berbohong akhirnya ia mendapatkan musibah ini. Sejak itu Simi berjanji tidak akan bohong lagi, dan akan selalu bekerja bersama-sama lagi seperti dulu.
Share This :

0 comments