ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Dongeng Pengantar Tidur

Monday, November 16, 2020

Sabtu, 14 November 2020

Janji Sahabat

Kancil dan monyet adalah dua sahabat yang berteman baik. Di mana ada kancil pasti di situ juga ada monyet. Si kancil yang terkenal dengan cerdik, selalu saja ada ide untuk membantu monyet jika dalam kesulitan. Gerakannya yang lincah dan bisa berlari dengan kencang. Melompat kian kemari dengan riangnya, apa lagi saat ia mendapatkan makanan yang lezat. Kancil di samping cerdik, ia juga suka berbagi. Makanan yang ia dapatkan selalu disisakan untuk sahabatnya.

 Sedangkan monyet juga punya keahlian yang tidak dimiliki oleh Kancil. Monyet sangat pandai memanjat pohon dan dengan lincah melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Ketika Monyet memanjat pohon buah-buahan, Kancil dengan setia menunggu di bawah. Mengumpulkan satu persatu buah-buahan yang diambil Monyet. Tapi monyet mempunyai sifat serakah. Sering kancil dipermainkan dengan sifat serakahnya ini. Hal inilah yang menyebabkan adanya pertengkaran di antara mereka.

Suatu hari Kancil berjalan- jalan menelusuri hutan. Ingin mencari makanan karena dari tadi perutnya sudah berdendang karena belum makan. Tiba-tiba Kancil melihat pepaya di kebun Pak Tani. Buahnya lebat sekali dan sudah banyak yang masak. Warna kuning buah pepaya membuat kancil semakin lapar.

“Panas-panas begini pasti enak memakan buah pepaya yang ranum ini. Tapi bagaimana ya caranya agar aku bisa memetik buah pepaya itu,” pikir Kancil sambil mengusap keningnya mencari akal.

Kancil sudah membayangkan betapa lezatnya buah pepaya itu.

“Monyet mana ya, kok dari tadi belum kelihatan,” guman Kancil.

Kalau urusan panjat memanjat memang bagian Monyet. Kalau untuk berlari kencang itu bagian Kancil. Kancil berjalan memutari pohon pepaya, sambil mencari akal untuk memetiknya.

“Apa saya tunggu aja si Monyet dulu ya. Tapiiii. Nanti aku ditipu lagi, ” guman Kancil lagi.

“Hei bengong aja,” tiba-tiba si Monyet  sudah berada di belakang kancil.

“Kamu kenapa Cil, kok kayak mau buang air saja. Mutar-mutar melulu. Memangnya perutmu sakit ya,” rayu Monyet.

“Perutku memang sakit Nyet, tapi bukan mau buang air.”

“Terus kenapa,” tanya Monyet semakin penasaran.

“Aku lapar tau, sudah jam segini aku belum juga mendapatkan makanan,” bentak Kancil yang merasa dirinya dipermainkan.

“Oooo kamu lapar ya. Terus kita harus bagaimana Cil.”

“Coba kamu lihat Nyet, tuh di kebun Pak Tani ada makanan lezat. Buah pepaya sudah menguning.” Teriak Kancil.

“Waaah, ok juga tuh Cil, ayo kita petik.”

Tanpa pikir panjang Monyet langsung memanjat buah pepaya yang ada di kebun Pak Tani.

“Tapi kamu janji dulu Nyet. Kamu harus bagi denganku. Jangan serakah ya,” Kancil mulai ragu melihat gelagat Monyet.

“Iya, iya. Pastilah Cil,” kata Monyet tanpa mempedulikan sahabatnya.

Satu persatu dipetiknya buah pepaya itu. Buah pertama diberikannya kepada kancil. Dipilihnya buah yang kecil. Ketika Kancil sedang asyik menikmati buah pepaya, monyetpun menikmati lezatnya buah pepaya yang besar. Ia tertawa melihat kancil yang sudah ditipunya.

“Nyam, nyam, nyam. Enaknyaaaa. Dasar si Kancil bodoh, mau saja dikibuli,” kata monyet.

Bruuuuuk, buuum. Tiba-tiba Kancil terkejut mendengar suara benda jatuh.

(bersambung) 


Share This :

0 comments